Kenapa Honda BR-V Kurang Laku – Honda BR-V sempat jadi harapan baru Honda di segmen Low SUV saat pertama kali diperkenalkan. Dengan tampilan gagah dan harga yang lebih terjangkau dari CR-V, mobil ini dikira bakal langsung laris manis.
Tapi kenyataannya, penjualannya tidak se-wow yang diharapkan. Bahkan, banyak yang menyebut BR-V sebagai “produk gagal”.
Tapi memangnya benar? Kenapa bisa begitu? Yuk kita bahas lebih dalam. Untuk kamu yang sudah mencoba generasi pertama atau kedua, bisa beri pendapat di kolom komentar ya, setuju tidak dengan pernyataan ini.
Kenalan Dengan Spesifikasi Honda BR-V Dulu Yuk
Sebelum menilai apakah BR-V itu gagal atau tidak, kita harus tahu dulu apa yang sebenarnya ditawarkan mobil ini.
Di tahun 2015, BR-V rilis di Indonesia, dengan kategori Low SUV, dan berbagi platform dengan Mobilio. Artinya, walaupun tampilannya seperti SUV, “isi dalemnya” lebih dekat ke MPV.
Masih bingung ya, SUV kok MPV? Yuk covermobilmu.com jelasin. Sekarang banyak mobil yang tampilannya SUV, tapi dasarnya MPV atau disebut juga mobil Crossover. Ini perbedaan ketiganya:

1. SUV (Sport Utility Vehicle)
Ciri-ciri:
- Desain lebih gagah dan tinggi, kelihatan “tangguh”
- Ground clearance tinggi (buat lewatin jalan rusak, off-road ringan)
- Biasanya pakai penggerak roda belakang atau AWD/4WD
- Suspensinya lebih kaku, tapi kuat buat jalan berat
- Cocok buat petualangan, medan campur, dan tampilan sporty
Contoh: Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, Honda CR-V
2. MPV (Multi Purpose Vehicle)
Ciri-ciri:
- Fokus ke kenyamanan dan kelegaan kabin
- Cocok buat keluarga, biasanya 7-seater
- Ground clearance lebih rendah dibanding SUV
- Rasa berkendaranya lebih lembut
- Lebih fokus ke penggunaan di kota atau jalan aspal
Contoh: Toyota Avanza, Mitsubishi Xpander, Honda Mobilio
3. Tricky: Ada juga “Crossover”
Ini yang sering membuat konsumen mobil bingung—mobil seperti BR-V, Xpander Cross, atau Rush itu bisa dibilang crossover: tampangnya SUV, tapi basic-nya MPV.
Jadi:
| Mobil | Basis | Tampang |
|---|---|---|
| BR-V | MPV (Mobilio) | SUV |
| Xpander Cross | MPV (Xpander) | SUV |
| Rush | SUV-ish | Tapi platform-nya mirip Terios/MPV juga |
Kesimpulan simpel:
- SUV = kuat di jalan berat, tampilan macho
- MPV = nyaman, lega, buat keluarga
- Crossover = gabungan tampilan SUV + kenyamanan MPV
Nah, dari penjelasan diatas BR-V termasuk jenis mobil “Crossover” yang menawarkan nilai jual utama:
- Kapasitas 7 penumpang, cocok buat keluarga
- Ground clearance 201 mm, cukup tinggi buat jalanan Indonesia yang sering rusak atau banjir
- Mesin 1.5L i-VTEC bertenaga 120 PS, sama seperti Honda City dan Mobilio
- Transmisi manual 6-percepatan atau CVT
- Fitur-fitur standar seperti ABS, EBD, dual airbags, dan AC double blower
Di versi facelift atau generasi terbarunya, BR-V juga sudah dibekali fitur keselamatan Honda Sensing, yang biasanya hanya ada di mobil kelas atas.
Jika dilihat sekilas, BR-V mempunyai semua yang dibutuhkan untuk sukses di pasar Low SUV. Tapi kenyataannya… lain cerita.
Baca juga: Beli Cover Mobil HRV, Apakah Muat Untuk Sesama Honda?
Kenapa Honda BR-V Kurang Laku? Intip Beberapa Faktornya
Pertanyaan kenapa Honda BR-V kurang laku, ini cukup menarik. Walaupun memiliki spek yang oke, BR-V nyatanya tetap mengalami kesulitan untuk bersaing. Beberapa faktor yang membuat mobil ini kurang dilirik konsumen antara lain:
1. Desain Kurang Menarik Buat Pasar SUV
BR-V generasi pertama banyak dikritik karena desainnya mirip MPV. Beberapa orang berpendapat bahwa mobil ini seperti jenis Mobilio, tetapi diubah dengan “paksa” menjadi SUV. Kamu tahu kan, SUV dan MPV memiliki perbedaan yang jelas? apalagi soal tampilannya.
Setelah ramai kritik, barulah tampilan new BR-V menjadi lebih SUV. Namun sayangnya, impresi negatif dari generasi pertama sudah terlanjur melekat.
2. Kurang Value for Money Dibanding Rival
Harga BR-V yang bisa mencapai 300 jt dianggap kurang sepadan dengan nilainya. Masih banyak produk kompetitor yang memiliki fitur lengkap dengan kenyamanan lebih dari BRV di harga yang sama. Jadi, konsumen merasa apa yang dibayar tidak sebanding dengan yang didapat.
3. Nama Besar Honda membuat Harapan Tinggi
Karena ini mobil Honda, orang berekspektasi tinggi. Konsumen mengira bahwa mobil ini akan memiliki fitur yang lengkap dan nyaman layaknya HR-V dan CR-V.
Namun setelah dicoba ternyata tidak sesuai ekspektasi. Ini yang membuat kekecewaan makin besar, terutama buat yang udah fanatik sama merek Honda.
4. Kurang Gimmick dan Fitur “Wow”
Konsumen sekarang semakin pintar dan pilih-pilih. Mobil yang laku biasanya memiliki fitur yang membuat orang bilang “wah”. Sayangnya, BR-V tidak mempunyai fitur yang benar-benar standout. Bahkan, fitur seperti stability control dan kamera 360 baru hadir di versi paling baru.
5. Branding dan Marketing Kurang Kuat
Pemain di kolam Low SUV sudah banyak. Honda dianggap kurang baik dalam menentukan posisi mobil barunya ini, jadi terkesan “nanggung”. BR-V tidak se-fungsional MPV, tapi juga tidak se-jantan SUV. Akhirnya, target pasarnya jadi samar.
Baca juga: 5 Rekomendasi Mobil Keluarga Murah Dengan Pertimbangannya
Penyebab BR-V Disebut “Produk Gagal,” Kok Bisa?

Kata “gagal” mungkin terdengar kejam, tapi ini muncul bukan tanpa alasan. Di dunia otomotif, produk disebut gagal kalau performa pasarnya jauh dari ekspektasi pabrikan, atau tidak mampu bersaing dengan kompetitor sekelas. Nah, BR-V masuk ke kategori itu. Kenapa?
1. Penjualan yang Kalah Jauh dari Rival
Contohnya, Toyota Rush dan Daihatsu Terios secara konsisten masuk daftar 10 mobil terlaris nasional. Sementara BR-V? Jauh di bawah. Bahkan di beberapa tahun terakhir, penjualannya gak sampai setengah dari penjualan Rush.
2. Gaungnya Tenggelam di Pasaran
Padahal ini mobil buatan Honda. Biasanya, mobil-mobil Honda gampang “naik daun” begitu diluncurkan. Tapi BR-V beda cerita. Hype-nya cepat hilang, dan masyarakat tidak banyak yang membicarakan.
3. Kurang “Identitas” yang Kuat
Mobil yang sukses biasanya punya karakter kuat. Misalnya, Xpander terkenal nyaman dan stylish, Rush dikenal tangguh dan awet. Nah, BR-V? Bingung juga mau dibilang apa.
Mau dibilang nyaman, tidak senyaman HR-V. Dibilang tangguh, masih kalah dari Rush. Mau dibilang murah, ada Terios. Kesannya, BR-V tidak memiliki selling point yang benar-benar kuat untuk jadi alasan beli.
4. Efek Domino dari Generasi Pertama
Kesalahan strategi di awal rilis BR-V membuat banyak konsumen kecewa. Efeknya panjang. Meskipun generasi kedua sudah banyak perbaikan, kepercayaan konsumen kadung turun. Di dunia otomotif, first impression itu penting banget.
5. Segmentasi Pasar yang Kurang Pas
Honda sepertinya bingung ingin menyimpan BR-V di mana. HR-V sudah kuat di segmen SUV kompak. Mobilio ada di MPV. BR-V ingin bermain di tengah-tengah, tapi akhirnya malah tidak kuat di dua-duanya. Ini membuat posisinya menjadi lemah.
Jadi, Honda BR-V Kurang Laku Karena “Gagal”?
Honda BR-V bukan mobil yang jelek. Dari sisi teknis, dia mempunyai banyak kelebihan. Tapi pasar otomotif tidak hanya soal spesifikasi. Faktor desain, value, positioning, dan persepsi konsumen juga punya peran besar.
BR-V mungkin bukan “gagal total”, tapi jelas belum mencapai potensi maksimalnya. Jika Honda ingin BR-V menjadi pemain kuat di segmen Low SUV, mereka harus bekerja keras untuk membangun ulang kepercayaan pasar.
Tentu saja bukan hanya lewat fitur, tapi juga lewat positioning yang lebih jelas dan marketing yang lebih tajam. Jadi, pertanyaan kamu soal kenapa Honda BR-V kurang laku sudah terjawab belum?