Naik Mobil Listrik Pusing – Beberapa tahun terakhir, mobil listrik semakin sering terlihat di jalan. Banyak orang mulai penasaran karena mobil jenis ini dikenal lebih senyap, modern, dan nyaman digunakan harian. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap pengalaman berkendara mobil listrik terasa lebih premium dibanding mobil konvensional.
Namun, di balik rasa “super nyaman” itu, ternyata ada juga orang yang mengeluhkan hal yang cukup unik: naik mobil listrik pusing dan mual. Apakah kamu juga begitu?
Menariknya, keluhan ini juga ternyata muncul pada orang yang sebelumnya baik-baik saja saat naik mobil bensin atau diesel, termasuk mobil mewah sekalipun. Jadi bukan dikeluhkan oleh orang-orang yang dasarnya mabuk mobil. Tapi mereka yang sudah biasa naik mobil loh.
Ada yang mengaku mulai merasa tidak nyaman bahkan baru beberapa menit mengendarai mobil listrik. Ada juga yang mengatakan sensasinya mirip mabuk perjalanan, padahal jalannya mulus dan cara mengemudinya normal.
Masalah ini akhirnya memunculkan pertanyaan baru. Apakah kondisi tersebut memang wajar? Atau justru ada sesuatu yang salah pada mobil listrik?
4 Penyebab Naik Mobil Listrik Bisa Pusing dan Mual

Kalau kamu takut rasa pusing dan mual ini bukan hal yang wajar dan ingin tahu apa penyebabnya, agar dapat mengemudi dengan nyaman, yuk baca beberapa kemungkinan di bawah ini.
1. Akselerasi Mobil
Salah satu penyebab yang paling sering dibahas adalah karakter akselerasi mobil listrik yang instan.
Berbeda dengan mobil bensin biasa, mobil listrik mampu mengeluarkan tenaga secara langsung ketika pedal gas diinjak. Akibatnya, mobil terasa lebih responsif dan seperti “meloncat” di awal tarikan. Bagi sebagian orang, sensasi ini bisa memicu rasa pusing atau mabuk perjalanan.
Karena itulah banyak artikel menyebut bahwa akselerasi mobil listrik menjadi penyebab utama naik mobil listrik pusing.
Namun, faktor ini ternyata tidak berlaku untuk semua orang. Ada pengguna yang pernah terbiasa naik mobil Eropa seperti Audi dan BMW dengan performa tinggi, bahkan sudah dimodifikasi hingga mampu melesat dari 0–100 km/jam dalam sekitar 6 detik. Anehnya, selama memakai mobil tersebut, ia tidak pernah merasa pusing.
Saat mencoba Geely EX2, memang ada sensasi akselerasi yang cukup kuat. Tetapi ketika mencoba BYD M6, pengalamannya justru berbeda. Tarikan mobil terasa lebih halus dan santai, bahkan disebut mirip mobil LCGC yang sedang menggunakan mode eco.
Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa akselerasi bukan satu-satunya penyebab rasa mual dan pusing pada mobil listrik. Untuk beberapa orang, faktor lain justru lebih berpengaruh.
2. Regenerative Braking
Penyebab berikutnya adalah regenerative braking. Sederhananya, regenerative braking merupakan sistem pengereman otomatis yang bekerja ketika pengemudi melepas pedal gas. Jadi, meskipun kaki belum menginjak rem, mobil akan langsung melambat dengan sendirinya.
Pada mobil bensin biasa, mobil cenderung tetap meluncur ketika pedal gas dilepas. Sementara pada mobil listrik, perlambatan terasa lebih cepat dan kadang cukup “menahan” tubuh ke depan. Bagi orang yang belum terbiasa, sensasi ini dapat memicu rasa tidak nyaman.
Tubuh seperti menerima hentakan kecil berulang-ulang, terutama saat pengemudi terlalu sering memainkan pedal gas. Penumpang yang sensitif biasanya lebih cepat merasa pusing karena ritme geraknya berbeda dibanding mobil konvensional. Meski begitu, faktor ini sebenarnya bisa diatasi seiring waktu.
Semakin sering menggunakan mobil listrik, pengemudi biasanya mulai memahami cara mengatur pedal gas dan rem agar perpindahan geraknya lebih halus. Beberapa mobil listrik modern juga menyediakan pengaturan level regenerative braking supaya karakter pengeremannya bisa disesuaikan.
Jadi, kalau saat pertama kali naik mobil listrik kamu merasa agak mual, belum tentu mobilnya bermasalah. Bisa jadi tubuhmu memang belum beradaptasi dengan pola pengereman tersebut.
3. Bantingan Suspensi
Selain akselerasi dan pengereman, karakter suspensi juga sering menjadi penyebab naik mobil listrik pusing.
Beberapa mobil listrik modern memang memiliki bantingan suspensi yang empuk dan nyaman. Contohnya seperti BYD M6 yang sering disebut punya bantingan lebih halus dibanding beberapa mobil keluarga konvensional.
Suspensi empuk memang terdengar menyenangkan. Jalan rusak terasa lebih lembut dan kabin menjadi lebih nyaman. Namun, ada sisi lain yang jarang disadari.
Suspensi yang terlalu lembut dapat membuat bodi mobil mengayun naik turun secara berlebihan. Sensasinya mirip seperti berada di atas kapal atau perahu kecil yang terus bergerak pelan. Gerakan vertikal seperti ini dapat membingungkan telinga bagian dalam yang berfungsi menjaga keseimbangan tubuh.
Akibatnya, otak menerima dua sinyal berbeda secara bersamaan:
- mata melihat jalan tampak stabil,
- tetapi telinga bagian dalam merasakan tubuh sedang bergerak naik turun.
Konflik sensorik inilah yang akhirnya memicu rasa pusing dan mual. Meski demikian, faktor suspensi juga tidak selalu menjadi penyebab utama.
Jika sebelumnya kamu pernah naik mobil premium seperti BMW Seri 5 dengan suspensi yang bahkan lebih nyaman dan tetap tidak merasa mabuk, kemungkinan besar sumber masalahnya bukan di bantingan mobil listrik tersebut. Artinya, ada faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap tubuhmu.
4. Sensor Tubuh yang Belum Terbiasa
Nah, inilah faktor yang mulai banyak dibahas belakangan ini.
Mobil bensin atau diesel sebenarnya menghasilkan banyak sinyal yang tanpa sadar sudah dikenali tubuh selama bertahun-tahun. Mulai dari suara mesin, getaran halus kabin, hingga perubahan nada mesin saat mobil berakselerasi. Mobil jenis ini biasa disebut ICE atau Internal Combustion Engine, yaitu kendaraan yang menggunakan mesin pembakaran seperti mobil bensin dan diesel pada umumnya.
Masalahnya, hampir semua orang tumbuh dengan pengalaman naik mobil ICE.
Akibatnya, otak sudah terbiasa menggunakan suara dan getaran tersebut sebagai “petunjuk” untuk membaca gerakan mobil. Ketika mobil akan melaju lebih cepat, biasanya suara mesin ikut meninggi. Saat mobil melambat, getarannya ikut berubah.
Pada mobil listrik, banyak sinyal tersebut hilang. Kabinnya sangat senyap. Getaran mesin nyaris tidak ada. Perpindahan tenaganya juga terasa lebih halus. Bagi sebagian orang, kondisi ini justru membuat otak bingung karena kehilangan pola yang selama ini dianggap normal. Tubuh merasa ada gerakan, tetapi tidak mendapatkan “peringatan” suara maupun vibrasi seperti biasanya.
Tidak heran jika beberapa mobil listrik modern dengan harga di atas Rp500 juta mulai menambahkan elemen suara buatan dan sedikit getaran tertentu agar pengalaman berkendaranya terasa lebih familiar bagi pengguna baru.
Baca juga: Touring Dengan Motor Besar? Agar Aman, Tim Wajib Siapkan Ini!
Naik Mobil Listrik Pusing dan Mual, Apakah Wajar?

Jawabannya, wajar. William Emond yang dikutip dari The Guardian menjelaskan bahwa rasa mual saat naik mobil listrik memang bisa terjadi karena otak belum memiliki cukup pengalaman terhadap jenis kendaraan tersebut.
Otak manusia sebenarnya terus memprediksi gerakan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Kalau sejak kecil seseorang lebih sering naik mobil bensin, maka otaknya akan terbiasa mengantisipasi perubahan kecepatan dari suara mesin dan getaran kendaraan.
Contohnya, ketika derungan mesin mulai meninggi, tubuh secara otomatis bersiap bahwa mobil akan berakselerasi. Sistem sensor tubuh sudah mengenali pola tersebut selama bertahun-tahun.
Sementara pada mobil listrik, pola itu berubah drastis. Mobil dapat melaju cepat tanpa suara mesin yang jelas. Getarannya juga jauh lebih minim. Akibatnya, otak menjadi kurang akurat dalam memperkirakan gerakan kendaraan. Inilah yang kemudian memicu rasa tidak nyaman, mual, atau pusing pada sebagian orang.
Kabar baiknya, kondisi ini biasanya akan membaik seiring adaptasi tubuh. Semakin sering kamu naik mobil listrik, otak perlahan mulai mengenali pola gerak kendaraan tersebut. Karena itu, banyak orang yang awalnya mabuk mobil listrik akhirnya bisa terbiasa setelah beberapa kali perjalanan.
Baca juga: Apakah Mobil Listrik Lebih Hemat Dari Konvensional? Mari Hitung!
Gimana, Masih Mau Coba Mobil Listrik?

Meski ada sebagian orang yang mengalami pusing atau mual, bukan berarti mobil listrik adalah kendaraan yang buruk.
Justru banyak pengguna merasa mobil listrik lebih nyaman untuk penggunaan sehari-hari karena kabinnya tenang, responsif, dan minim getaran. Hanya saja, tubuh beberapa orang memang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sensasi berkendara yang berbeda.
Kalau kamu termasuk yang pernah merasa naik mobil listrik pusing, cobalah duduk di posisi depan, atur pandangan ke jalan, dan hindari bermain ponsel selama perjalanan. Cara mengemudi yang halus juga sangat membantu mengurangi rasa mual.
Dan, kalau kamu sudah punya mobil listrik harap parkirkan dengan baik-baik ya. Proper kalau bisa tempatnya. Namun jika garasi atau tempat parkir tertutup tidak tersedia, jangan lupa bawa cover mobil by Gicut Smarket. Harganya terjangkau, bisa pilih bahan sesuai musim lagi.
Semoga menjawab pertanyaanmu!